Jumat, 23 Desember 2011

Getah Tannin Tanaman Lamtoro Tingkatkan Produktivitas Susu Ternak Sapi Perah


Getah tannin yang terkandung dalam tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala) tidak hanya mampu menghambat pertumbuhan emisi gas methane (CH4) yang dilepaskan oleh ternak ke lingkungan bebas, tetapi juga memacu pertumbuhan bakteri Fibrobacter succinogenes di dalam rumen. Getah tannin ini diketahui mampu mengurangi berkurangnya kontribusi methane pada efek rumah kaca di atmosfer karena menghambat pertumbuhan methanogens sehingga mengurangi emisi gas methane (CH4). Seperti diketahui, methane merupakan gas yang lebih kuat 21 kali lipat dibandingkan dengan CO sebagai penyebab efek rumah kaca.

Di samping itu, kemampuan tannin dalam memacu pertumbuhan bakteri Fibrobacter succinogenes cukup menguntungkan bagi dunia peternakan karena mampu meningkatkan produktivitas ternak dengan meningkatkan energi tubuh ternak dan memacu produktivitas susu sapi sapi perah.
“Tannin memacu pertumbuhan bakteri Fibrobacter succinogenes yang ada di dalam rumen ternak sapi dan kerbau. Bakteri tersebut bertanggung jawab terhadap produksi salah satu asam lemak volatile (VFA), yaitu propionat. Dalam mekanisme metabolisme tubuh, terutama ternak perah, propionate sangat penting keberadaannya untuk suplai energi tubuh. Selain penting bagi metabolisme tubuh, propionate juga erat kaitannya dengan kuantitas produksi susu,”
kata staf pengajar Fakultas Peternakan UGM, Bambang Suwignyo, S.Pt., M.P., saat mempertahankan penelitian disertasi doktornya di University of the Philippines Los Banos (UPLB).

Dalam berbagai referensi, tannin adalah produk sekunder tumbuhan polifenol dalam bentuk getah berwarna bening yang larut dalam air. Namun, apabila teroksidasi berwarna coklat. Dalam disertasinya yang berjudul Effect of Tannin on the Rumen Ecology of Carabao (Bubalus bubalis) and Cattle (Bos indicus).

Pemanfaatan
Sejak lama lamtoro telah dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber kayu bakar dan pakan ternak. Di tanah-tanah yang cukup subur, lamtoro tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ukuran dewasanya (tinggi 13—18 m) dalam waktu 3 sampai 5 tahun. Tegakan yang padat (lebih dari 5000 pohon/ha) mampu menghasilkan riap kayu sebesar 20 hingga 60 m³ perhektare pertahun. Pohon yang ditanam sendirian dapat tumbuh mencapai gemang 50 cm.

Lamtoro adalah salah satu jenis polong-polongan serbaguna yang paling banyak ditanam dalam pola pertanaman campuran (wanatani). Pohon ini sering ditanam dalam jalur-jalur berjarak 3—10 m, di antara larikan-larikan tanaman pokok. Kegunaan lainnya adalah sebagai pagar hidup, sekat api, penahan angin, jalur hijau, rambatan hidup bagi tanaman-tanaman yang melilit seperti lada, panili, markisa dan gadung, serta pohon penaung di perkebunan kopi dan kakao. Di hutan-hutan tanaman jati yang dikelola Perhutani di Jawa, lamtoro kerap ditanam sebagai tanaman sela untuk mengendalikan hanyutan tanah (erosi) dan meningkatkan kesuburan tanah.Perakaran lamtoro memiliki nodul-nodul akar tempat mengikat nitrogen.

[Batang lamtoro. India.Lamtoro terutama disukai sebagai penghasil kayu api. Kayu lamtoro memiliki nilai kalori sebesar 19.250 kJ/kg, terbakar dengan lambat serta menghasilkan sedikit asap dan abu. Arang kayu lamtoro berkualitas sangat baik, dengan nilai kalori 48.400 kJ/kg.

Kayunya termasuk padat untuk ukuran pohon yang lekas tumbuh (kepadatan 500—600 kg/m³) dan kadar air kayu basah antara 30—50%, bergantung pada umurnya. Lamtoro cukup mudah dikeringkan dengan hasil yang baik, dan mudah dikerjakan. Sayangnya kayu ini jarang yang memiliki ukuran besar; batang bebas cabang umumnya pendek dan banyak mata kayu, karena pohon ini banyak bercabang-cabang. Kayu terasnya berwarna coklat kemerahan atau keemasan, bertekstur sedang, cukup keras dan kuat sebagai kayu perkakas, mebel, tiang atau penutup lantai. Kayu lamtoro tidak tahan serangan rayap dan agak lekas membusuk apabila digunakan di luar ruangan, akan tetapi mudah menyerap bahan pengawet.

Lamtoro juga merupakan penghasil pulp (bubur kayu) yang baik, yang cocok untuk produksi kertas atau rayon.Kayunya menghasilkan 50—52% pulp, dengan kadar lignin rendah dan serat kayu sepanjang 1,1—1,3 mm. Kualitas kertas yang didapat termasuk baik.

Daun-daun dan ranting muda lamtoro merupakan pakan ternak dan sumber protein yang baik, khususnya bagi ruminansia. Daun-daun ini memiliki tingkat ketercernaan 60 hingga 70% pada ruminansia, tertinggi di antara jenis-jenis polong-polongan dan hijauan pakan ternak tropis lainnya. Lamtoro yang ditanam cukup rapat dan dikelola dengan baik dapat menghasilkan hijauan dalam jumlah yang tinggi. Namun pertanaman campuran lamtoro (jarak tanam 5—8 m) dengan rumput yang ditanam di antaranya, akan memberikan hasil paling ekonomis.

Ternak sapi dan kambing menghasilkan pertambahan bobot yang baik dengan komposisi hijauan pakan berupa campuran rumput dan 20—30% lamtoro.Meskipun semua ternak menyukai lamtoro, akan tetapi kandungan yang tinggi dari mimosi
materi referensi:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar